Senin, 07 Mei 2012

Uang Logam 1000 Rupiah bergambar Angkung



Pada tanggal 01 April 2010 Bank Indonesia (BI) telah meluncurkan uang logam baru pecahan 1.000 Rupiah. Uang logam berwarna putih keperakan ini terbuat dari besi / baja dilapisi dengan bahan Nickel Plated Steel (NPS) yang untuk pertama kalinya NPS digunakan oleh BI untuk  bahan pembuatan uang logam Indonesia. Uang berdiameter 24,15 mm ini mempunyai ketebalan sekitar 1,60 mm dan memiliki berat sebesar 4,5 gram.

Pada bagian depan koin terdapat gambar lambang negara yakni Garuda Pancasila, diatasnya tertulis “Bank Indonesia”. Dibagian tengah tercantum angka nominalnya yaitu “1000” diikuti dengan tulisan satuan “Rupiah” dibagian bawahnya.

Bagian Depan

Uang logam 1000 Rupiah beremisi tahun 2010 ini, pada bagian belakang bergambar Angklung dengan latang belakang Gedung Sate yang terdapat di Kota Bandung, Jawa Barat.


Bagian Belakang

Angklung merupakan alat musik tradisional di Indonesia, berasal dari tanah sunda-Jawa Barat. Terbuat dari bambu dan bunyi khasnya dihasilkan dari benturan badan pipa bambu yang digoyangkan saat dimainkan. Alat musik yang telah dikenal sejak masa kerajaan Sunda ini pada mulanya dibuat dan dimainkan bertujuan untuk memikat Dewi Sri turun ke bumi sehingga tanaman padi rakyat dapat tumbuh subur dengan hasil berlimpah.
Selain itu juga berfungsi sebagai alat penggugah semangat dalam pertempuran dalam masa penjajahan. Oleh karena itu angklung pernah dilarang penggunaannya pada masa kekuasaan pemerintahan Hindia Belanda.
Namun setelah itu, angklung semakin menyebar ke berbagai daerah seperti Jawa, Kalimantan hingga Sumatera. Jadi alasan dipilihnya Angklung sebagai gambar utama pada uang logam ini bertujuan sebagai salah satu cara untuk melestarikan kebudayaan nasional.

Arsitektur Gedung Sate yang memiliki ornamen tusuk sate pada menara sentralnya tersebut merupakan hasil karya arsitek Ir. J. Gerber beserta timnya dengan beberapa masukan dari maestro arsitek Belanda Dr. Hendrik Petrus Berlage, memberikan nuansa tradisional Nusantara dengan gaya arsitektur Indo-Eropa yang unik dan anggun. Gedung Sate mulai dibangun pada 27 Juli 1920 untuk pembangunan induk bangunan utama dapat diselesaikan selama 4 tahun pada bulan September 1924. Di Gedung Sate pada tanggal 03 Desember 1945 telah terjadi peristiwa yang memakan korban tujuh pemuda untuk mempertahankan gedung dari serangan pasukan Gurkha, untuk mengenang peristiwa tersebut dibuatlah tugu dari batu diletakkan dihalaman depan Gedung Sate.

Gedung Sate jaman dulu


Kesempurnaan keindahan dan megahnya Gedung ini dilengkapi dengan gedung baru bergaya konstektual dibangun tahun1977 oleh arsitek Ir. Sudibyo. Sejak tahun 1980, Gedung Sate dikenal dengan sebutan Kantor Gubenur sebab digunakan sebagai pusat kegiatan pemerintahan Propinsi Jawa Barat.
Keindahan dan nilai sejarah yang dimiliki Gedung Sate tersebut menjadikannya dipilih sebagai gambar pada uang logam 1.000 Rupiah sebagai wujud pelestarian tempat bersejarah dalam kehidupan bangsa Indonesia.






 
Referensi :
bi.go.id
id.wikipedia.org

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar